PROSES PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

Oleh : Prof. Dr. Awan Mutakin, M.Pd

a. Pendahuluan

Dalam suatu proses modernisasi, suatu proses perubahan yang direncanakan, melibatkan semua kondisi atau nilai-nilai sosial dan kebudayaan secara integratif. Atas dasar ini, semua fihak, apakah tokoh ? Tokoh masyarakat, formal atau non-formal, anggota masyarakat lainnya, apakah dalam skala individual atau pun dalam skala kelompok, seyogianya memahami dan menyadari, bahwa, manakala salah satu aspek atau unsur sosial atau kebudayaan mengalami perubahan, maka unsur-unsur lainnya mesti menghadapi dan mengharmonisikan kondisinya dengan unsur-unsur lain yang telah berubah terlebih dulu.

 

Oleh karena itu mesti memahami dan menyadari bahwa sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan ada yang berkualifikasi norma (norm) dan nilai (value). Di mana norma skala keberlakuannya tergantung pada aspek waktu, ruang (tempat, dan kelompok sosial yang bersangkutan; sedangkan nilai (value) skala keberlakuannya lebih universal. Dalam tatanan masyarakat yang maju atau modern, maka nilai-nilai sosial dan kultural yang bersifat universal mendominasi dan mengisi semua mosaik kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

 

b. Orientasi Perubahan

Yang dimaksudkan orientasi atau arah perubahan di sini meliputi beberapa orientasi, antara lain (1) perubahan dengan orientasi pada upaya meninggalkan faktor-faktor atau unsur-unsur kehidupan sosial yang mesti ditinggalkan atau diubah, (2) perubahan dengan orientasi pada suatu bentuk atau unsur yang memang bentuk atau unsur baru, (3) suatu perubahan yang berorientasi pada bentuk, unsur, atau nilai yang telah eksis atau ada pada masa lampau. Tidaklah jarang suatu masyarakat atau bangsa yang selain berupaya mengadakan proses modernisasi pada berbagai bidang kehidupan, apakah aspek ekonomis, birokrasi, pertahanan keamanan, dan bidang iptek; namun demikian, tidaklah luput perhatian masyarakat atau bangsa yang bersangkutan untuk berupaya menyelusuri, mengeksplorasi, dan menggali serta menemukan unsur-unsur atau nilai-nilai kepribadian atau jatidiri sebagai bangsa yang bermartabat.

Tidaklah jarang, bahwa tokoh-tokoh dan ungkapan-ungkapan yang bernuansa seni sastra pada masa lampau, baik suatu fenomena yang bernuansa imajinasi, yang ditampilkan oleh berbagai bentuk ceritera rakyat atau folklore. Semuanya lazim menyadarkan atau menampilkan nilai-nilai keteladanan, baik dalam aspek gagasan, aspek pengorganisasian dan kegiatan sosial, maupun dalam aspek-aspek kebendaan. Aspek-aspek ini senantiasa dimuati oleh nilai-nilai kearifan dan kebijakan yang memberikan acuan bagaimana orang mesti berfikir, berasa, berkarsa dan berkarya dalam upaya bertanggung jawab pada dirinya, pada sesamanya, dan pada lingkungannya, serta pada Sang Khalik Yang Maha Murbeng Alam ini. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi nuansa-nuansa dalam membagun kepribadian atau jatidiri sebagian besar masyarakat atau suatu kelompok bangsa dimanapun mereka berada.

 

Dalam memantapkan orientasi suatu proses perubahan, ada beberapa faktor yang memberikan kekuatan pada gerak perubahan tersebut, yang antara lain adalah sebagai berikut, (1) suatu sikap, baik skala individu maupun skala kelompok, yang mampu menghargai karya pihak lain, tanpa dilihat dari skala besar atau kecilnya produktivitas kerja itu sendiri, (2) adanya kemampuan untuk mentolerir adanya sejumlah penyimpangan dari bentuk-bentuk atau unsur-unsur rutinitas, sebab pada hakekatnya salah satu pendorong perubahan adanya individu-individu yang menyimpang dari hal-hal yang rutin. Memang salah satu ciri yang hakiki dari makhluk yang disebut manusia itu adalah sebagai makhluk yang disebut homo deviant, makhluk yang suka menyimpang dari unsur-unsur rutinitas, (3) mengokohkan suatu kebiasaan atau sikap mental yang mampu memberikan penghargaan (reward) kepada pihak lain (individual, kelompok) yang berprestasi dalam berinovasi, baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan iptek, (4) adanya atau tersedianya fasilitas dan pelayanan pendidikan dan pelatihan yang memiliki spesifikasi dan kualifikasi progresif, demokratis, dan terbuka bagi semua fihak yang membutuhkannya.

 

Precedent dari suatu proses perubahan sosial tidak mesti diorientasikan pada isu kemajuan atau progress semata, sebab tidaklah mustahil bahwa proses perubahan sosial itu justru mengarah ke isu kemunduran atau kearah suatu regress, atau mungkin mengarah pada suatu degradasi pada sejumlah aspek atau nilai kehidupan dalam masyarakat yang bersangkutan. Suatu proses regresi atau kemunduran dan degradasi (luntur atau berkurangnya suatu derajat atau kualifikasi bentuk-bentuk atau niali-nilai dalam masyarakat), tidak hanya suatu arah atau orientasi perubahan secara linier, tetapi tidak jarang terjadi karena justru sebagai dampak sampingan dari keberhasilan suatu proses perubahan. Sebagai contoh perubahan aspek iptek, dari iptek yang bersahaja ke iptek yang modern (maju), mungkin menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada unsur-unsur atau nilai-nilai yang tengah berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, yang sering disebut sebagai culture-shock atau kejutan-kejutan budaya yang terjadi pada tatanan kehidupan suatu masyarakat yang tengah menghadapi berbagai perubahan.

 

c. Modernisasi Sebagai Kasus Perubahan Sosial dan Kebudayaan

Modernisasi, menunjukkan suatu proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik, material dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi universal, rasional, dan fungsional. Lazimnya suka dipertentangkan dengan nilai-nilai tradisi. Modernisasi berasal dari kata modern (maju), modernity (modernitas), yang diartikan sebagai nilai-nilai yang keberlakuan dalam aspek ruang, waktu, dan kelompok sosialnya lebih luas atau universal, itulah spesifikasi nilai atau values. Sedangkan yang lazim dipertentangkan dengan konsep modern adalah tradisi, yang berarti barang sesuatu yang diperoleh seseorang atau kelompok melalui proses pewarisan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Umumnya tradisi meliputi sejumlah norma (norms) yang keberlakuannya tergantung pada (depend on) ruang (tempat), waktu, dan kelompok (masyarakat) tertentu. Artinya keberlakuannya terbatas, tidak bersifat universal seperti yang berlaku bagi nilai-nilai atau values. Sebagai contoh atau kasus, seyogianya manusia mengenakkan pakaian, ini merupakan atau termasuk kualifikasi nilai (value). Semua fihak cenderung mengakui dan menganut nilai atau value ini. Namun, pakaian model apa yang harus dikenakan itu? Perkara model pakaian yang disukai, yang disenangi, yang biasa dikenakan, itulah yang menjadi urusan norma-norma yang dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu, dan dari kelompok ke kelompok akan lebih cenderung beraneka ragam.

Spesifikasi norma-norma dan tradisi bila dilihat atas dasar proses modernisasi adalah sebagai berikut, (1) ada norma-norma yang bersumber dari tradisi itu, boleh dikatakan sebagai penghambat kemajuan atau proses modernisasi, (2) ada pula sejumlah norma atau tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan, disempurnakan, dilakukan pencerahan, atau dimodifikasi sehingga kondusif dalam menghadapi proses modernisasi, (3) ada pula yang betul-betul memiliki konsistensi dan relevansi dengan nilai-nilai baru. Dalam kaitannya dengan modernisasi masyarakat dengan nilai-nilai tradisi ini, maka ditampilkan spesifikasi atau kualifikasi masyarakat modern, yaitu bahwa masyarakat atau orang yang tergolong modern (maju) adalah mereka yang terbebas dari kepercayaan terhadap tahyul. Konsep modernisasi digunakan untuk menamakan serangkaian perubahan yang terjadi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat tradisional sebagai suatu upaya mewujudkan masyarakat yang bersangkutan menjadi suatu masyarakat industrial. Modernisasi menunjukkan suatu perkembangan dari struktur sistem sosial, suatu bentuk perubahan yang berkelanjutan pada aspek-aspek kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, tradisi dan kepercayaan dari suatu masyarakat, atau satuan sosial tertentu.

Modernisasi suatu kelompok satuan sosial atau masyarakat, menampilkan suatu pengertian yang berkenaan dengan bentuk upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sadar dan kondusif terhadap tuntutan dari tatanan kehidupan yang semakin meng-global pada saat kini dan mendatang. Diharapkan dari proses menduniakan seseorang atau masyarakat yang bersangkutan, manakala dihadapkan pada arus globalisasi tatanan kehidupan manusia, suatu masyarakat tertentu (misalnya masyarakat Indonesia) tidaklah sekedar memperlihatkan suatu fenomena kebengongan semata, tetapi diharapkan mampu merespons, melibatkan diri dan memanfaatkannya secara signifikan bagi eksistensi bagi dirinya, sesamanya, dan lingkungan sekitarnya. Adapun spesifikasi sikap mental seseorang atau kelompok yang kondusif untuk mengadopsi dan mengadaptasi proses modernisasi adalah, (1) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berorientasi ke masa depan dan dengan cermat mencoba merencanakan masa depannya, (2) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berhasrat mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi-potensi sumber daya alam, dan terbuka bagi pengembangan inovasi bidang iptek. Dalam hal ini, memang iptek bisa dibeli, dipinjam dan diambil alih dari iptek produk asing, namun dalam penerapannya memerlukan proses adaptasi yang sering lebih rumit daripada mengembangkan iptek baru, (3) nilai budaya atau sikap mental yang siap menilai tinggi suatu prestasi dan tidak menilai tinggi status sosial, karena status ini seringkali dijadikan suatu predikat yang bernuansa gengsi pribadi yang sifat normatif, sedangkan penilai obyektif hanya bisa didasarkan pada konsep seperti apa yang dikemukakan oleh D.C. Mc Clelland (Koentjaraningrat, 1985), yaitu achievement-oriented, (4) nilai budaya atau sikap mental yang bersedia menilai tinggi usaha fihak lain yang mampu meraih prestasi atas kerja kerasnya sendiri.

Tanpa harus suatu masyarakat berubah seperti orang Barat, dan tanpa harus bergaya hidup seperti orang Barat, namun unsur-unsur iptek Barat tidak ada salahnya untuk ditiru, diambil alih, diadopsi, diadaptasi, dipinjam, bahkan dibeli. Manakala persyaratan ini telah dipenuhi dan keempat nilai budaya atau sikap mental yang telah ditampilkan telah dimiliki oleh suatu masyarakat tersebut. Khusus untuk masyarakat di Indonesia, sejarah masa lampau mengajarkan bahwa sistem ekonomi, politik, dan kebudayaan dari kerajaan-kerajaan besar di Asia seperti India dan Cina, yang diadopsi dan diadaptasi oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara ini, seperti Sriwijaya dan Majapahit, namun fakta sejarah tidak membuktikan bahwa orang-orang Sriwijaya dan Majapahit, dalam pengadopsian dan pengadaptasian nilai-nilai kebudayaan tadi sekaligus menjadi orang India atau Cina.

Proses modernisasi sampai saat ini masih tampak dimonopoli oleh masyarakat perkotaan (urban community), terutama di kota-kota Negara Sedang Berkembang, seperti halnya di Indonesia. Kota-kota di negara-negara sedang berkembang menjadi pusat-pusat modernisasi yang diaktualisasikan oleh berbagai bentuk kegiatan pembangunan, baik aspek fisik-material, sosio-kultural, maupun aspek mental-spiritual. Kecenderungan-kecenderungan seperti ini, menjadikan daerah perkotaan sebagai daerah yang banyak menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi penduduk pedesaan, terutama bagi generasi mudanya. Obsesi semacam ini menjadi pendorong kuat bagi penduduk pedesaan untuk beramai-ramai membanjiri dan memadati setiap sudut daerah perkotaan, dalam suatu proses sosial yang disebut urbanisasi. Fenomena demografis seperti ini, selanjutnya menjadi salah satu sumber permasalahan bagi kebijakan-kebijakan dalam upaya penataan ruang dan kehidupan masyarakat perkotaan. Sampai dengan saat sekarang ini masalah perkotaan ini masih menunjukkan gelagat yang semakin ruwet dan kompleks.

40 Tanggapan

  1. ada pengertiannya ga ?? buat pengertian perubahan sosial nya donk..

  2. ada contohnya ga???????????????????????????????????

  3. ada contohnya gak?????????????????????

  4. Muu contoh sama faktor pendorong & penghambatnya jg duun…

  5. nggak jelas kok yang dibahas modernisasi ?

  6. mana donk pengertian sosial Budaya nya??? mau bwat makalah nih!!! jadi kan enak tinggal copy and paste???

  7. faktor perubahannya apa sih???

  8. koq aq kurang paham ya sama artikelnya
    Tolong dibuat lebih ringkas dan bisa mudah dimengerti

  9. kk napa ga di kasi tanggapannya?

  10. tolong dong jelaskan PERKEMBANGAN KONDISI KEBUDAYAAN INDONESIA DAN PERTAHANAN KEAMANAN SOSIAL BUDAYA DI INDONESIA

  11. truz pemasalahannya ap?!?!?!?!?

  12. apa sih prilaku manusia akibat perubahan sosial budaya???
    jelasin ya !!!
    plizzzz

  13. gimana sih cara ngatasinnya?

  14. ga ngerti bahasanya

  15. ada web tentang perubahan sosialnya gak???

  16. yaa cukup membantu mencari tugas…

  17. thx ya….. atas bantuannya….

  18. d kasih tahap2 proses perubahan sosial budaya na dwunk !!!!

  19. terlalu sangar

  20. pdahal ada tugas skol suruh cari perubahan sosial.tp akhirnya ktm jg

  21. perubahan sosial memang membuat pusing kepala.tp udah ada obatnya…bodrex

  22. anak kambing udah ada namanya cempe…asu

  23. kuRank jLas tu..
    kLo bisa dHi + in pHoto..
    oK..
    tRimZ..

  24. KuRaNgggggggggggggggggggg………………………….
    ……………………………JeLaZZZZZZZZZZZZZ………………..
    BaNggEt………………………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    ……………………Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………………..

  25. kLo biZa sEy aDa KeTeRaNgaNya,,jadi LebIh JeLaZ
    ……………..gItu LuO………………HHHHHHHHHH………!!!!!!!!!!!!!!

  26. awalnya da bgz tu……

    cm buat pelajar lbh bgz lg klo di susun scr artikel to laporan gt…
    mis pendahuluan-isi-penutup……

    jd lbh memudah kan dlm pengerjaannya……. hehe

    thakZ

  27. kayanya artikelnya kurang lengkap deh,klo di lengkapi pasti lebih bagus

  28. bener tuh yang di kritik ma tmn-tmn yang diatas
    kuuuuuuuuuurang bgt pembahasannya
    lengkapin donq agar bih jelas lagi. jadi kl kebelet buat makalah kan bisa tuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhh hehehehehehe
    di copi palagi aku minat bgt tuh soal budaya -budaya gt
    dtgu loh hasilnya yang lebih pasti yah.

  29. perubahan sosial budaya bisa di kaitkan ma globalisasi gak???

  30. wah…terimakasih atas ulasannya. sangat membantu. Saya dari Aceh. sekarang mau meneliti masalah perubahan sosial di Aceh setelah konflik dan tsunami. Rentang waktunya dari tahun 2000 sampai 2007 (dari awal DOM sampai akhir 2007). Semga kawan2 punya masukan untuk penelitian ini.thnx

  31. gak jeLaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaZZZZZZ buNget!!!

    iZie’y kuRang LenGkap…………..

  32. Prof kurang ada pengertian mengenai perubahan sosial itu sendiri…

  33. bahannya ribet bgt!, gw ga ngerti tauk……

  34. Assalamu alaikum

    Saya bertanya, apa memang belum ada situs online organisasi Muhammadiyah dalam segala aspek untuk diakses di seluruh Indonesia, maksud saya Situs Kampus, Situs Badan Usaha, ortom Muhammadiyah????
    terima kasih
    wassalam

  35. pengertian perubahan sosial dunk. makasi

  36. Saya berpendapat bahwa budaya bukan hanya sekedar mekanisme2, norma, nilai atau system2 dan pranata hasil karya manusia, namun budaya merupakan sebuah payung kehidupan yang melampaui sekam2 sempit kehidupan dan aturan2 subyektifitas manusia baik individu, kelompok, suku, ras, bangsa, kewilayahan bahkan negara. budaya adalah yan menaungi kehidupan kita ini, budaya merupakan fitrah, dialektika kehidupan yang harus dilalui manusia, adanya tidak dikreasi dan tidak diada-adakan, tetapi memang manusia tidak bisa menghindarinya. karena budaya itu ya fitrah hidup dan kehidupan yang bersifat dialektis. unsur budaya ya kehidupan itu sendiri.. jadi hendaknya pengertian budaya jangan dipersempit pada hasil budi dan daya manusia semata, karena budaya merupakan fitrah kehidupan..
    kondisi sosial bisa dirubah, norma bisa diciptakan, habit bisa digelar, pranata bisa di patenkan menjadi hukum, tetpi budaya tidak seperti itu.. budaya meliputi, menaungi dan melampaui hal-hal tersebut diatas..

  37. boleh juga tapi harus analisa dan nyimpulin lagi

  38. budaya adalah suatu nilai atau jati diri suatu individu. dimana budaya kita ini tealh hilang atau bahkan sama sekali tidak ada, budaya kita telah menjadi budaya yang material bukan proses dari humanisasi. karena itu saya berpendapat bahwa dalam menagalami suatu perubahan kita harus menuatkan nilai dalam suatu budaya tersebut

  39. Ass,,

    yang bisa saya tangkap dari penjabaran perubahan sosial diatas,
    hanya mengungkapkan pada pengaruh modernisasi..
    namun, bagaimana apabila dkhususkan perubahan sosial oleh adanya peran media massa??
    yang ingin saya tanyakan: penjabaran lengkapnya,, apa saja yang ditimbulkan, baik segi positif serta negatifnya,, serta contoh nyata dalam kehidupan bermasyarakat..

    itu saja yang ingin saya sampaikan,,ditunggu balasannya…

    wa alaikum salam…

  40. klo perubahan sosial dalam bidang ekonomi ada gak..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: