<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN IPS KOTA Cimahi &#187; SOSIOLOGI</title>
	<atom:link href="http://mgmpips.wordpress.com/category/sosiologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mgmpips.wordpress.com</link>
	<description>Blog Resmi MGMP IPS Kota Cimahi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Apr 2008 15:29:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='mgmpips.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/9e1d3b8ac4f60e683e1ce49ce0a3c960?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN IPS KOTA Cimahi &#187; SOSIOLOGI</title>
		<link>http://mgmpips.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Dimana Tanggung jawab Kita</title>
		<link>http://mgmpips.wordpress.com/2007/08/22/dimana-tanggung-jawab-kita/</link>
		<comments>http://mgmpips.wordpress.com/2007/08/22/dimana-tanggung-jawab-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Aug 2007 14:33:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mgmpips.wordpress.com/2007/08/22/dimana-tanggung-jawab-kita/</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=83&subd=mgmpips&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><a href="http://mgmpips.files.wordpress.com/2007/08/img_4087.jpg" title="Tautan langsung ke berkas"><img src="http://mgmpips.files.wordpress.com/2007/08/img_4087.thumbnail.jpg?w=170&#038;h=128" alt="Jangan biarkan mereka" height="128" width="170" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mgmpips.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mgmpips.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mgmpips.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mgmpips.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mgmpips.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mgmpips.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mgmpips.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mgmpips.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mgmpips.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mgmpips.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mgmpips.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mgmpips.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=83&subd=mgmpips&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mgmpips.wordpress.com/2007/08/22/dimana-tanggung-jawab-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a63edc6f50e5be5df8e5dc1b14d8c16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mgmpips.files.wordpress.com/2007/08/img_4087.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jangan biarkan mereka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMPELAJARI PERKEMBANGAN POLITIK INDONESIA MELALUI PENDEKATAN KEBUDAYAAN POLITIK</title>
		<link>http://mgmpips.wordpress.com/2007/08/02/mempelajari-perkembangan-politik-indonesia-melalui-pendekatan-kebudayaan-politik/</link>
		<comments>http://mgmpips.wordpress.com/2007/08/02/mempelajari-perkembangan-politik-indonesia-melalui-pendekatan-kebudayaan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 14:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mgmpips.wordpress.com/2007/08/02/mempelajari-perkembangan-politik-indonesia-melalui-pendekatan-kebudayaan-politik/</guid>
		<description><![CDATA[Budaya yang berasal dari kata ‘buddhayah’ yang berarti akal, atau dapat juga didefinisikan secara terpisah yaitu dengan dua buah kata ‘budi’ dan ‘daya’ yang apabila digabungkan menghasilkan sintesa arti mendayakan budi, atau menggunakan akal budi tersebut. Bila melihat budaya dalam konteks politik hal ini menyangkut dengan sistem politik yang dianut suatu negara beserta segala unsur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=76&subd=mgmpips&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Budaya yang berasal dari kata ‘buddhayah’ yang berarti akal, atau dapat juga didefinisikan secara terpisah yaitu dengan dua buah kata ‘budi’ dan ‘daya’ yang apabila digabungkan menghasilkan sintesa arti mendayakan budi, atau menggunakan akal budi tersebut. Bila melihat budaya dalam konteks politik hal ini menyangkut dengan sistem politik yang dianut suatu negara beserta segala unsur (pola bersikap &amp; pola bertingkah laku) yang terdapat didalamnya. </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Sikap &amp; tingkah laku politik seseorang menjadi suatu obyek penanda gejala-gejala politik yang akan terjadi pada orang tersebut dan orang-orang yang berada di bawah politiknya. Contohnya ialah jikalau seseorang telah terbiasa dengan sikap dan tingkah laku politik yang hanya tahu menerima, menurut atau memberi perintah tanpa mempersoalkan atau memberi kesempatan buat mempertanyakan apa yang terkandung dalan perintah itu. Dapat diperkirakan orang itu akan merasa aneh, canggung atau frustasi bilamana ia berada dalam lingkungan masyarakatnya yang kritis, yang sering, kalaulah tidak selalu, mempertanyakan sesuatu keputusan atau kebijaksanaan politik.<span id="more-76"></span></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Golongan elit yang strategis seperti para pemegang kekuasaan biasanya menjadi objek pengamatan tingkah laku ini, sebab peranan mereka biasanya amat menentukan walau tindakan politik mereka tidak selalu sejurus dengan iklim politik lingkungannya. Golongan elit strategis biasanya secara sadar memakai cara-cara yang tidak demokratis guna menyearahkan masyarakatnya untuk menuju tujuan yang dianut oleh golongan ini. Kemerosotan demokratisasi biasanya terjadi disini, walaupun mungkin terjadi kemajuan pada beberapa bidang seperti bidang ekonomi dan yang lainnya.</font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Kebudayaan politik Indonesia pada dasarnya bersumber pada pola sikap dan tingkah laku politik yang majemuk. Namun dari sinilah masalah-masalah biasanya bersumber. Mengapa? Dikarenakan oleh karena golongan elite yang mempunyai rasa idealisme yang tinggi. Akan tetapi kadar idealisme yang tinggi itu sering tidak dilandasi oleh pengetahuan yang mantap tentang realita hidup masyarakat. Sedangkan masyarakat yang hidup di dalam realita ini terbentur oleh tembok kenyataan hidup yang berbeda dengan idealisme yang diterapkan oleh golongan elit tersebut. Contohnya, seorang kepala pemerintahan yang mencanangkan program wajib belajar 9 tahun demi meningkatkan mutu pendidikan, namun pada aplikasinya banyak anak-anak yang pada jenjang pendidikan dasar putus sekolah dengan berbagai alasan, seperti tidak memiliki biaya. Hal ini berarti idealisme itu tidak diimplikasikan secara riil dan materiil ke dalam masyarakat yang terlibat dibawah politiknya.</font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Idealisme diakui memanglah penting. Tetapi bersikap berlebihan atas idealisme itu akan menciptakan suatu ideologi yang sempit yang biasanya akan menciptakan suatu sikap dan tingkahlaku politik yang egois dan mau menang sendiri. Demokrasi biasanya mampu menjadi jalan penengah bagi atas polemik ini.</font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Indonesia sendiri mulai menganut sistem demokrasi ini sejak awal kemerdeka-annya yang dicetuskan di dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Demokrasi dianggap merupakan<span>  </span>sistem yang cocok di Indonesia karena kemajemukan masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu Demokrasi yang dilakukan dengan musyawarah mufakat berusaha untuk mencapai obyektifitas dalam berbagai bidang yang secara khusus adalah politik. Kondisi obyektif tersebut berperan untuk menciptakan iklim pemerintahan yang kondusif di Indonesia. Walaupun demikian, perilaku politik manusia di Indonesia masih memiliki corak-corak yang menjadikannya sulit untuk menerapkan Demokrasi yang murni. </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Corak pertama terdapat pada golongan elite strategis, yakni kecenderungan untuk memaksakan subyektifisme mereka agar menjadi obyektifisme, sikap seperti ini biasanya melahirkan sikap mental yang otoriter/totaliter. Corak kedua terdapat pada anggota masyarakat biasa, corak ini bersifat emosional-primordial. Kedua cirak ini tersintesa sehingga menciptakan suasana politik yang otoriter/totaliter.</font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Sejauh ini kita sudah mengetahui adanya perbedaan atau kesenjangan antara corak-corak sikap dan tingkah laku politik yang tampak berlaku dalam masyarakat dengan corak sikap dan tingkahlaku politik yang dikehendaki oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kita tahu bahwa manusia Indonesia sekarang ini masih belum mencerminkan nilai-nilai Pancasila itu dalam sikap dan tingkah lakunya sehari-hari. Kenyataan tersebutlah yang hendak kita rubah dengan nilai-nilai idealisme pancasila, untuk mencapai manusia yang paling tidak mendekati kesempurnaan dalam konteks Pancasila.</font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Esensi manusia ideal tersebut harus dikaitkan pada konsep “dinamika dalam kestabilan”. Arti kata dinamik disini berarti berkembang untuk menjadi lebih baik. Misalkan kepada suatu generasi diwariskan suatu undang-undang, diharapkan dengan dinamika yang ada dalam masyarakat tersebut dapat menjadikan Undang-Undang tersebut bersifat luwes dan fleksibel, sehingga tanpa menghilangkan nilai-nilai esensi yang ada, generasi tersebut terus berkembang. Dinamika dan kemerdekaan berpikir tersebut diharapkan mampu untuk memperkokoh persatuan dan memupuk pertumbuhan.</font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Yang menjadi persoalan kini ialah bagaimana dapat menjadikan individu-individu yang berada di masyarakat Indonesia untuk mempunyai ciri “dinamika dalam kestabilan” yakni menjadi manusia yang ideal yang diinginkan oleh Pancasila. Maka disini diperlukanlah suatu proses yang dinamakan sosialisasi, sosialisasi Pancasila. Sosalisasi ini jikalau berjalan progressif dan berhasil maka kita akan meimplikasikan nilai-nilai Pancasila kedalam berbagai bidang kehidupan. Dari penanaman-penanaman nilai ini akan melahirkan kebudayaan-kebudayaan yang berideologikan Pancasila. Proses kelahiran ini akan memakan waktu yang cukup lama, jadi kita tidak bisa mengharapkan hasil yang instant terjadinya pembudayaan. </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Dua faktor yang memungkinkan keberhasilan proses pembudayaan nilai-nilai dalam diri seseorang yaitu sampai nilai-nilai itu berhasil tertanam di dalam dirinya dengan baik. Kedua faktor itu adalah:</font></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Emosional psikologis, faktor yang berasal dari hatinya</font></li>
<li class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Rasio, faktor yang berasal dari otaknya</font></li>
</ol>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Jikalau kedua faktor tersebut dalam diri seseorang kompatibel dengan nilai-nilai Pancasila maka pada saat itu terjadilah pembudayaan Pancasila itu dengan sendirinya.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tentu saja tidak hanya kedua faktor tersebut. Segi lain pula yang patut diperhaikan dalam proses pembudayaan adalah masalah waktu. Pembudayaan tidak berlangsung secara instan dalam diri seseorang namun melalui suatu proses yang tentunya membutuhkan tahapan-tahapan yang adalah pengenalan-pemahaman-penilaian-penghayatan-pengamalan. Faktor kronologis ini berlangsung berbeda untuk setiap kelompok usia.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Melepaskan kebiasaan yang telah menjadi kebudayaan yang lama merupakan suatu hal yang berat, namun hal tersebutlah yang diperlukan oleh bangsa Indonesia. <span> </span>Sekarang ini bangsa kita memerlukan suatu transformasi budaya sehingga membentuk budaya yang memberikan ciri Ideal kepada setiap Individu yakni berciri seperti manusia yang lebih Pancasilais. Transformasi iu memerlukan tahapan-tahapan pemahaman dan penghayatan yang mendalam yang terkandung di dalam nilai-nilai yang menuntut perubahan atau pembaharuan. Keberhasilan atau kegagalan pembudayaan dan beserta segala prosesnya akan menentukan jalannya perkembangan politik yang ditempuh oleh bangsa Indonesia di masa depan.</font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">            </font></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mgmpips.wordpress.com/76/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mgmpips.wordpress.com/76/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mgmpips.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mgmpips.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mgmpips.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mgmpips.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mgmpips.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mgmpips.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mgmpips.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mgmpips.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mgmpips.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mgmpips.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=76&subd=mgmpips&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mgmpips.wordpress.com/2007/08/02/mempelajari-perkembangan-politik-indonesia-melalui-pendekatan-kebudayaan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a63edc6f50e5be5df8e5dc1b14d8c16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MASYARAKAT KOTA SEBAGAI INOVATOR</title>
		<link>http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/06/masyarakat-kota-sebagai-inovator/</link>
		<comments>http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/06/masyarakat-kota-sebagai-inovator/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2007 13:25:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/06/masyarakat-kota-sebagai-inovator/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Prof.Dr.Awan Mutaqin.M.Pd
Komunitas atau masyarakat perkotaan sering diidentikan dengan masyarakat modern (maju), dan tidak jarang pula dipertentangkan dengan masyarakat pedesaan, yang akrab pula dengan predikat masyarakat tradisonal manakala dilihat dari aspek kulturnya. Spesifikasi masyarakat kota atau masyarakat maju itu antara lain sebgai berikut, (1) hubungan antar anggota masyarakat nyaris bertumpu pada pertimbangan untuk kepentingan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=40&subd=mgmpips&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal"><span id="more-40"></span>Oleh : Prof.Dr.Awan Mutaqin.M.Pd</p>
<p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal">Komunitas atau masyarakat perkotaan sering diidentikan dengan masyarakat modern (maju), dan tidak jarang pula dipertentangkan dengan masyarakat pedesaan, yang akrab pula dengan predikat masyarakat tradisonal manakala dilihat dari aspek kulturnya. Spesifikasi masyarakat kota atau masyarakat maju itu antara lain sebgai berikut, (1) hubungan antar anggota masyarakat nyaris bertumpu pada pertimbangan untuk kepentingan masing-masing pribadi warga kota tersebut, (2) hubungan dengan masyarakat perkotaan lainnya berlangsung secara terbuka dan saling berinteraksi, (3) mereka warga kota yakin bahwa iptek memiliki manfaat yang signifikan dalam meningkatkan kualitas kehidupan, (4) masyarakat kota berdeferensiasi atas dasar perbedaan profesi dan keahlian sebagai fungsi pendidikan dan pelatihan, (5) tingkat pendidikan masyarakat kota relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan, (6) aturan-aturan atau hukum yang berlaku dalam masyarakat perkotaan lebih berorientasi pada aturan atau hukum formal yang bersifat kompleks, (7) tatanan ekonomi yang berlangsung dalam masyarakat perkotaan umumnya <em>ekonomi-pasar </em>yang berorientasi pada nilai uang, persaingan, dan nilai-nilai inovatif lainnya. Spesifikasi tadi berlaku dalam skala kelompok atau masyarakat.</p>
<p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal">Adapun spesifikasi berskala individu sebagai warga masyarakat kota, antara lain sebagai berikut, (1) senantiasa menerima perubahan setelah memahami adanya kelemahan-kelemahan kondisi yang rutin, (2) peka terhadap masalah dan menyadari bahwa masalah tersebut tidak terlepas dari keberadaan dirinya, (3) terbuka bagi pengalaman-pengalaman baru (inovasi) disertai sikap yang tidak apriori atau prasangka, (4) setiap pendiriannya selalu dilengkapi dengan informasi yang akurat, (5) orientasi pada waktu yang bertumpu pada logika bahwa waktu lampau adalah pengalaman, waktu sekarang adalah fakta, dan waktu mendatang adalah harapan yang mesti diperjuangkan, (6) ia sangat memahami akan potensi dirinya, dan potensi itu ia yakin dapat dikembangkan, (7) ia senantiasa ingin terlibat dan peka terhadap suatu perencanaan, (8) ia selalu menghindar dari situasi yang fatalistik dan tidak mudah menyerah pada keadaan atau nasib, (9) ia meyakini akan manfaat iptek dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan manusia, (10) ia memahami, menyadari, dan menghormati akan hak-hak, kewajiban, dan kehormatan pihak lain.</p>
<p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p STYLE="text-indent: 30pt" CLASS="MsoBodyText"><span>Spesifikasi masyarakat dan individu di daerah perkotaan, tidaklah mudah diperoleh dan dimiliki oleh masyarakat dan individu yang bersangkutan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa fungsi pendidikan, pelatihan, pengidentifikasian, dan pengadaptasian nilai-nilai kehidupan yang maju, yang telah menjadi bagian integral dalam masyarakat perkotaan. Ada beberapa kendala yang mengganggu usaha pengembangan manusia yang maju, antara lain, (1) kekurangmampuan diri dalam membaca dan memahami peran-peran fihak lain, atau populer disebut <em>empati</em>, dan rendahnya tingkat aspirasi dan kegairahan untuk melihat masa depan. (2) ketidakmampuan untuk menunda kepuasan atau keinginan yang berlebih akan sesuatu kebutuhan, (3) langkanya daya kreasi dan inovasi.</span></p>
<p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal"><span>Individu dan masyarakat perkotaan memiliki lebih banyak peluang untuk berperan sebagai pembawa proses pembaruan, dimana dalam proses pembaruan tersebut akan sarat dengan upaya pemecahan sejumlah masalah yang berkembang. Dalam kaitan dengan perkara tadi, Nichoff (Pudjiwati Sajogyo, 1985) menampilkan sejumlah kiat sebagai acuan bagi para pelaku atau aktor pembaruan atau pembangunan. Kiat-kiat yang dimaksud antara lain, (1) kemampuan berkomunikasi secara ajeg, baik dalam menghadapi massa atau publik, maupun dalam tatap muka secara personal, atau apa yang telah populer disebut <em>face to face</em>, (2) kemampuan melakukan antisipasi dalam masyarakat lewat keterampilan beradaptasi dengan memanfaatkan fungsi bahasa, gagasan (ide), peralatan (sistem teknologi), dan potensi-potensi<span>  </span>lain yang relevan dengan tuntutan atau masalah yang tengah berkembang, (3) kemampuan untuk mendemonstrasikan gagasan dan teknologi baru sehingga meyakinkan pihak lain untuk menerima pembaruan tersebut, (4) mendorong pihak lain untuk berpartisipasi dan bersaing dalam mencobakan dan melanjutkan gagasan-gagasan baru tersebut, (5) mengupayakan agar menerima unsur-unsur baru, (6) kemampuan memanfaatkan atau memanipulasi sejumlah potensi lingkungan setempat yang relevan dengan tuntutan pembaruan, (7) kejelian dalam memilih waktu dan menggunakan kesempatan yang tepat dalam memperkenalkan atau mensosialisasikan pembaruan tersebut, (8) cukup fleksibel dalam memiliki unsur-unsur baru dengan mempertimbangkan faktor-faktor kesulitan yang ada pada saat itu, (9) kemampuan untuk memelihara kontinyuitas pemeliharaan dan pengembangan unsur-unsur baru yang telah diterima oleh fihak lain.</span></p>
<p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal"><span>Semua spesifikasi dan kemampuan tadi lebih banyak bertumpu pada para pelaku, pemeran, atau aktor pembaruan, atau pelaku perubahan yang sering secara poluler disebut dengan <em>agent of change</em>. Bagaimana halnya dengan spesifikasi dan persyaratan yang mesti ada, siap, atau dimiliki oleh pihak penerima pembaruan atau perubahan tadi? spesifikasi yang ada pada penerima pembaruan atau pembangunan antara lain sebagai berikut ini. <em>Pertama</em><strong>,</strong> adanya motivasi untuk timbulnya rasa membutukan dan memiliki pemahaman akan manfaat serta nilai praktis dari unsur-unsur baru tersebut. <em>Kedua, </em>sifat kepemimpinan, baik dalam kelembagaan struktural (negara, birokrat) maupun kelompok sosial. </span><em><span>Ketiga,</span></em><strong><span> </span></strong><span>struktur sosial, baik dalam peran-peran individual maupun dalam status dalam rentang hubungan hirarkis, dan bentuk-bentuk hubungan sosial lainnya. <em>Keempat,</em> pengelompokkan individu, baik atas dasar subkultur (kelompok etnik) maupun atas dasar politis, apakah itu berskala kelompok birokrat lokal, regional, ataupun nasional. <em>Kelima,</em> pola perekonomian yang meliputi sistem produksi, distribusi, konsumsi, deferensiasi kerja dan alokasi waktu, serta nilai pemilikan tanah (lahan) dan nilai kebendaan lainnya. <em>Keenam</em><strong>, </strong>kepercayaan masyarakat yang meliputi sistem agama, mistis, dan persepsi yang berkaitan dengan kesehatan, kebersihan lingkungan, dan persepsi tentang keadaan yang memerlukan perubahan.</span></p>
<h1><span>Ringkasan (Bagian 1 dan 2)</span></h1>
<p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal"><span>Apa sebenarnya orientasi-orientasi itu ?, (1) meninggalkan unsur-unsur kehidupan sosial yang memang mesti ditinggalkan atau ditambah, (2) mengadopsi dan mengadaptasi unsur-unsur baru, (3) selain menyerap unsur-unsur modern, suatu masyarakat atau bangsa tidak luput juga perhatian untuk menyelusuri dan menggali serta menemukan nilai-nilai <em>kepribadian atau jatidiri</em> sebagai bangsa yang <em>bermartabat</em>. Dalam suatu perubahan mesti ada sejumlah faktor kekuatan penggerak proses perubahan tersebut, antara lain sebagai contoh adalah, (1) suatu sikap mental yang mampu menghargai karya dan prestasi orang lain, (2) kemampuan untuk siap menaruh toleransi terhadap adanya sejumlah penyimpangan dari kondisi rutin dan semua itu dijadikan penguat untuk hasrat berubah, sebab memang pada dasarnya manusia itu sebagai mahluk yang suka menyimpang dari kondisi rutinitas, yaitu sebagai <em>homo-deviant </em>dan sekaligus sebagai mahluk pengabdi atau <em>homo-devinant</em>, (3) menghargai pada suatu inovasi dan mampu memberikan penghargaan pada siapapun yang berinovasi, baik pada bidang sosial, ekonomi, dan iptek, (4) tersedianya fasilitas dan pelayanan pendidikan dan pelatihan yang berkualifikasi progresif, demokratis, dan terbuka bagi siapapun yang mengaksesnya.</span></p>
<p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal"><span>Posisi norma-norma tradisional dalam arena proses perubahan atau modernisasi, adalah sebagai berikut, (1) sebagai penghambat proses modernisasi, (2) ada yang berpotensi untuk dikembangkan, disempurnakan, dimodifikasi sehingga kondusif dalam menghadapi proses perubahan, (3) ada pula yang memang relevan dengan unsur-unsur baru yang menjadi muatan arus perubahan atau modernisasi.</span></p>
<p STYLE="text-align: justify; text-indent: 30pt; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal"><span>Masyarakat kota, atau <em>urban community</em>, sering menyandang predikat sebagai <em>inovator</em>, dan spesifikasi dari masyarakat ini antara lain, (1) dalam bentuk hubungan sosial apapun, orientasi kepentingan pribadi lebih dominan, (2) hubungan dengan masyarakat luar, atau lain terbuka, baik secara teritorial maupun secara kultural, (3) mereka yakin bahwa iptek bermanfaat secara signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan, (4) mereka berdeferensiasi atas dasar profesi dan keahlian sebagai fungsi pendidikan dan pelatihan, (5) aturan-aturan yang berlaku berorientasi pada aturan atau hukum yang formal dan bersifat kompleks, (6) tatan ekonomi bertumpu pada <em>ekonomi pasar</em> dengan orientasi pada nilai-nilai uang, persaingan, dan nilai-nilai inovatif lainnya. </span>Spesifikasi ini berlaku untuk skala kelompok atau masyarakat.</p>
<p STYLE="text-align: justify; line-height: 150%" CLASS="MsoNormal">&nbsp;</p>
<h1><span STYLE="font-weight: 400"><br />
</span></h1>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mgmpips.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mgmpips.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mgmpips.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mgmpips.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mgmpips.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mgmpips.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mgmpips.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mgmpips.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mgmpips.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mgmpips.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mgmpips.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mgmpips.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=40&subd=mgmpips&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/06/masyarakat-kota-sebagai-inovator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a63edc6f50e5be5df8e5dc1b14d8c16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROSES PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA</title>
		<link>http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/05/proses-perubahan-sosial-budaya/</link>
		<comments>http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/05/proses-perubahan-sosial-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2007 13:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/06/proses-perubahan-sosial-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Prof. Dr. Awan Mutakin, M.Pd
a. Pendahuluan
Dalam suatu proses modernisasi, suatu proses perubahan yang direncanakan, melibatkan semua kondisi atau nilai-nilai sosial dan kebudayaan secara integratif. Atas dasar ini, semua fihak, apakah tokoh ? Tokoh masyarakat, formal atau non-formal, anggota masyarakat lainnya, apakah dalam skala individual atau pun dalam skala kelompok, seyogianya memahami dan menyadari, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=39&subd=mgmpips&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh : Prof. Dr. Awan Mutakin, M.Pd</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>a. Pendahuluan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Dalam suatu proses modernisasi, suatu proses perubahan yang direncanakan, melibatkan semua kondisi atau nilai-nilai sosial dan kebudayaan secara integratif. Atas dasar ini, semua fihak, apakah tokoh ? Tokoh masyarakat, formal atau non-formal, anggota masyarakat lainnya, apakah dalam skala individual atau pun dalam skala kelompok, seyogianya memahami dan menyadari, bahwa, manakala salah satu aspek atau unsur sosial atau kebudayaan mengalami perubahan, maka unsur-unsur lainnya mesti menghadapi dan mengharmonisikan kondisinya dengan unsur-unsur lain yang telah berubah terlebih dulu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Oleh karena itu mesti memahami dan menyadari bahwa sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan ada yang berkualifikasi norma <em>(norm</em>) dan nilai (value). Di mana norma skala keberlakuannya tergantung pada aspek <em>waktu, ruang (tempat, dan kelompok</em> sosial yang bersangkutan; sedangkan nilai (<em>value</em>) skala keberlakuannya lebih <em>universal</em>. Dalam tatanan masyarakat yang maju atau modern, maka nilai-nilai sosial dan kultural yang bersifat universal mendominasi dan mengisi semua mosaik kehidupan masyarakat yang bersangkutan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>b. Orientasi Perubahan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Yang dimaksudkan orientasi atau arah perubahan di sini meliputi beberapa orientasi, antara lain (1) perubahan dengan orientasi pada upaya meninggalkan faktor-faktor atau <em>unsur-unsur kehidupan sosial yang mesti ditinggalkan </em>atau diubah, (2) perubahan dengan orientasi pada suatu bentuk atau unsur yang memang bentuk atau unsur <em>baru,</em> (3) suatu perubahan yang berorientasi pada bentuk, unsur, atau nilai yang telah <em>eksis </em>atau <em>ada </em>pada <em>masa lampau</em>. Tidaklah jarang suatu masyarakat atau bangsa yang selain berupaya mengadakan proses modernisasi pada berbagai bidang kehidupan, apakah aspek ekonomis, birokrasi, pertahanan keamanan, dan bidang iptek; namun demikian, tidaklah luput perhatian masyarakat atau bangsa yang bersangkutan untuk berupaya menyelusuri, mengeksplorasi, dan menggali serta menemukan unsur-unsur atau nilai-nilai <em>kepribadian </em>atau <em>jatidiri</em> sebagai <em>bangsa </em>yang<strong> </strong><em>bermartabat</em><strong>.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Tidaklah jarang, bahwa tokoh-tokoh dan ungkapan-ungkapan yang bernuansa seni sastra pada masa lampau, baik suatu fenomena yang bernuansa imajinasi, yang ditampilkan oleh berbagai bentuk ceritera rakyat atau <em>folklore</em>. Semuanya lazim menyadarkan atau menampilkan nilai-nilai keteladanan, baik dalam aspek gagasan, aspek pengorganisasian dan kegiatan sosial, maupun dalam aspek-aspek kebendaan. Aspek-aspek ini senantiasa dimuati oleh nilai-nilai kearifan dan kebijakan yang memberikan acuan bagaimana orang mesti <em>berfikir, berasa, berkarsa </em>dan<strong> </strong><em>berkarya </em>dalam upaya bertanggung jawab pada <em>dirinya</em>, pada <em>sesamanya</em>, dan pada <em>lingkungannya</em><strong>,</strong> serta pada <em>Sang Khalik Yang Maha Murbeng Alam ini</em><strong>. </strong>Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi nuansa-nuansa dalam membagun kepribadian atau jatidiri sebagian besar masyarakat atau suatu kelompok bangsa dimanapun mereka berada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">Dalam memantapkan orientasi suatu proses perubahan, ada beberapa faktor yang memberikan kekuatan pada gerak perubahan tersebut, yang antara lain adalah sebagai berikut, (1) suatu sikap, baik skala individu maupun skala kelompok, yang mampu menghargai karya pihak lain, tanpa dilihat dari skala besar atau kecilnya produktivitas kerja itu sendiri, (2) adanya kemampuan untuk mentolerir adanya sejumlah penyimpangan dari bentuk-bentuk atau unsur-unsur rutinitas, sebab pada hakekatnya salah satu pendorong perubahan adanya individu-individu yang menyimpang dari hal-hal yang rutin. Memang salah satu ciri yang hakiki dari makhluk yang disebut manusia itu adalah sebagai makhluk yang disebut <em>homo deviant</em>, makhluk yang suka menyimpang dari unsur-unsur rutinitas, (3) mengokohkan suatu kebiasaan atau sikap mental yang mampu memberikan penghargaan (reward) kepada pihak lain (individual, kelompok) yang berprestasi dalam <em>berinovasi</em>, baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan iptek, (4) adanya atau tersedianya fasilitas dan pelayanan pendidikan dan pelatihan yang memiliki spesifikasi dan kualifikasi progresif, demokratis, dan terbuka bagi semua fihak yang membutuhkannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><em>Precedent </em>dari suatu proses perubahan sosial tidak mesti diorientasikan pada isu kemajuan atau <em>progress </em>semata, sebab tidaklah mustahil bahwa proses perubahan sosial itu justru mengarah ke isu kemunduran atau kearah suatu <em>regress</em>, atau mungkin mengarah pada suatu <em>degradasi</em> pada sejumlah aspek atau nilai kehidupan dalam masyarakat yang bersangkutan. Suatu proses regresi atau kemunduran dan degradasi (luntur atau berkurangnya suatu derajat atau kualifikasi bentuk-bentuk atau niali-nilai dalam masyarakat), tidak hanya suatu arah atau orientasi perubahan secara linier, tetapi tidak jarang terjadi karena justru sebagai dampak sampingan dari keberhasilan suatu proses perubahan. Sebagai contoh perubahan aspek iptek, dari iptek yang <em>bersahaja</em> ke iptek yang <em>modern </em>(maju), mungkin menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada unsur-unsur atau nilai-nilai yang tengah berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, yang sering disebut sebagai <em>culture-shock </em>atau kejutan-kejutan budaya yang terjadi pada tatanan kehidupan suatu masyarakat yang tengah menghadapi berbagai perubahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;"><span>c. Modernisasi Sebagai Kasus Perubahan Sosial dan Kebudayaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><span>Modernisasi, menunjukkan suatu proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik, material dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi universal, rasional, dan fungsional. Lazimnya suka dipertentangkan dengan nilai-nilai tradisi. Modernisasi berasal dari kata modern (maju), modernity (modernitas), yang diartikan sebagai nilai-nilai yang keberlakuan dalam aspek ruang, waktu, dan kelompok sosialnya lebih luas atau <em>universal</em>, itulah spesifikasi <em>nilai </em>atau <em>values</em>. Sedangkan yang lazim dipertentangkan dengan konsep <em>modern </em>adalah <em>tradisi</em>, yang berarti barang sesuatu yang diperoleh seseorang atau kelompok melalui proses pewarisan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Umumnya <em>tradisi </em>meliputi sejumlah <em>norma (norms</em>) yang keberlakuannya tergantung pada (<em>depend on</em>) ruang (tempat), waktu, dan kelompok (masyarakat) tertentu. Artinya keberlakuannya terbatas, tidak bersifat universal seperti yang berlaku bagi nilai-nilai atau <em>values</em>. Sebagai contoh atau kasus, <em>seyogianya manusia mengenakkan pakaian</em><strong>, </strong>ini merupakan atau termasuk kualifikasi <em>nilai (value</em>). Semua fihak cenderung mengakui dan menganut <em>nilai </em>atau <em>value </em>ini. Namun, pakaian model apa yang harus dikenakan itu? Perkara model pakaian yang disukai, yang disenangi, yang biasa dikenakan, itulah yang menjadi urusan norma-norma yang dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu, dan dari kelompok ke kelompok akan lebih cenderung beraneka ragam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><span>Spesifikasi norma-norma dan tradisi bila dilihat atas dasar proses modernisasi adalah sebagai berikut, (1) ada norma-norma yang bersumber dari tradisi itu, boleh dikatakan sebagai penghambat kemajuan atau proses modernisasi, (2) ada pula sejumlah norma atau tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan, disempurnakan, dilakukan pencerahan, atau dimodifikasi sehingga kondusif dalam menghadapi proses modernisasi, (3) ada pula yang betul-betul memiliki konsistensi dan relevansi dengan nilai-nilai baru. Dalam kaitannya dengan modernisasi masyarakat dengan nilai-nilai tradisi ini, maka ditampilkan spesifikasi atau kualifikasi masyarakat modern, yaitu bahwa masyarakat atau orang yang tergolong modern (maju) adalah mereka yang terbebas dari kepercayaan terhadap <em>tahyul</em><strong>.</strong> Konsep modernisasi digunakan untuk menamakan serangkaian perubahan yang terjadi<span>  </span>pada seluruh aspek kehidupan masyarakat tradisional sebagai suatu upaya mewujudkan masyarakat yang bersangkutan menjadi suatu masyarakat industrial. Modernisasi menunjukkan suatu perkembangan dari struktur sistem sosial, suatu bentuk perubahan yang berkelanjutan pada aspek-aspek kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, tradisi dan kepercayaan dari suatu masyarakat, atau satuan sosial tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><span>Modernisasi suatu kelompok satuan sosial atau masyarakat, menampilkan suatu pengertian yang berkenaan dengan bentuk upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sadar dan kondusif terhadap tuntutan dari tatanan kehidupan yang semakin meng-global pada saat kini dan mendatang. Diharapkan dari proses menduniakan seseorang atau masyarakat yang bersangkutan, manakala dihadapkan pada arus globalisasi tatanan kehidupan manusia, suatu masyarakat tertentu (misalnya masyarakat Indonesia) tidaklah sekedar memperlihatkan suatu fenomena <em>kebengongan </em>semata, tetapi diharapkan mampu merespons, melibatkan diri dan memanfaatkannya secara signifikan bagi eksistensi bagi dirinya, sesamanya, dan lingkungan sekitarnya. Adapun spesifikasi sikap mental seseorang atau kelompok yang kondusif untuk mengadopsi dan mengadaptasi proses modernisasi adalah, (1) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berorientasi ke masa depan dan dengan cermat mencoba merencanakan masa depannya, (2) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berhasrat mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi-potensi sumber daya alam, dan terbuka bagi pengembangan inovasi bidang iptek. Dalam hal ini, memang iptek bisa dibeli, dipinjam dan diambil alih dari iptek produk asing, namun dalam penerapannya memerlukan proses adaptasi yang sering lebih rumit daripada mengembangkan iptek baru, (3) nilai budaya atau sikap mental yang siap menilai tinggi suatu <em>prestasi </em>dan tidak menilai tinggi <em>status sosial</em>, karena status ini seringkali dijadikan suatu predikat yang bernuansa gengsi pribadi yang sifat normatif, sedangkan penilai obyektif<span>  </span>hanya bisa didasarkan pada konsep seperti apa yang dikemukakan oleh<span>  </span>D.C. Mc Clelland (Koentjaraningrat, 1985), yaitu <em>achievement-oriented</em>, (4) nilai budaya atau sikap mental yang bersedia menilai tinggi usaha fihak lain yang mampu meraih prestasi atas kerja kerasnya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><span>Tanpa harus suatu masyarakat berubah seperti orang Barat, dan tanpa harus bergaya hidup seperti orang Barat, namun unsur-unsur iptek Barat tidak ada salahnya untuk ditiru, diambil alih, diadopsi, diadaptasi, dipinjam, bahkan dibeli. Manakala persyaratan ini telah dipenuhi dan keempat nilai budaya atau sikap mental yang telah ditampilkan telah dimiliki oleh suatu masyarakat tersebut. Khusus untuk masyarakat di Indonesia, sejarah masa lampau mengajarkan bahwa sistem<span>  </span>ekonomi, politik, dan kebudayaan dari kerajaan-kerajaan besar di Asia seperti India dan Cina, yang diadopsi dan diadaptasi oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara ini, seperti Sriwijaya dan Majapahit, namun fakta sejarah <em>tidak membuktikan</em> bahwa orang-orang Sriwijaya dan Majapahit, dalam pengadopsian dan pengadaptasian nilai-nilai kebudayaan tadi sekaligus menjadi orang India atau Cina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:30pt;line-height:150%;"><span>Proses modernisasi sampai saat ini masih tampak dimonopoli oleh masyarakat perkotaan (urban community), terutama di kota-kota <em>Negara Sedang Berkembang</em>, seperti halnya di Indonesia. Kota-kota di negara-negara sedang berkembang menjadi pusat-pusat modernisasi yang diaktualisasikan oleh berbagai bentuk kegiatan pembangunan, baik aspek fisik-material, sosio-kultural, maupun aspek mental-spiritual. Kecenderungan-kecenderungan seperti ini, menjadikan daerah perkotaan sebagai daerah yang banyak menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi penduduk pedesaan, terutama bagi generasi mudanya. Obsesi semacam ini menjadi pendorong kuat bagi penduduk pedesaan untuk beramai-ramai membanjiri dan memadati setiap sudut daerah perkotaan, dalam suatu proses sosial yang disebut <em>urbanisasi</em>. Fenomena demografis seperti ini, selanjutnya menjadi salah satu sumber permasalahan bagi kebijakan-kebijakan dalam upaya penataan ruang dan kehidupan masyarakat perkotaan. Sampai dengan saat sekarang ini masalah perkotaan ini masih menunjukkan gelagat yang semakin ruwet dan kompleks.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mgmpips.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mgmpips.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mgmpips.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mgmpips.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mgmpips.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mgmpips.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mgmpips.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mgmpips.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mgmpips.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mgmpips.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mgmpips.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mgmpips.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=39&subd=mgmpips&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/05/proses-perubahan-sosial-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a63edc6f50e5be5df8e5dc1b14d8c16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEBUDAYAAN POLITIK</title>
		<link>http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/01/kebudayaan-politik/</link>
		<comments>http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/01/kebudayaan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 10:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/01/kebudayaan-politik/</guid>
		<description><![CDATA[MEMPELAJARI PERKEMBANGAN POLITIK INDONESIA MELALUI PENDEKATAN KEBUDAYAAN POLITIK
&#160;
            Budaya yang berasal dari kata ‘buddhayah’ yang berarti akal, atau dapat juga didefinisikan secara terpisah yaitu dengan dua buah kata ‘budi’ dan ‘daya’ yang apabila digabungkan menghasilkan sintesa arti mendayakan budi, atau menggunakan akal budi tersebut. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=31&subd=mgmpips&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>MEMPELAJARI PERKEMBANGAN POLITIK </strong><strong>INDONESIA</strong><strong> MELALUI PENDEKATAN KEBUDAYAAN POLITIK</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Budaya yang berasal dari kata ‘buddhayah’ yang berarti akal, atau dapat juga didefinisikan secara terpisah yaitu dengan dua buah kata ‘budi’ dan ‘daya’ yang apabila digabungkan menghasilkan sintesa arti mendayakan budi, atau menggunakan akal budi tersebut. Bila melihat budaya dalam konteks politik hal ini menyangkut dengan sistem politik yang dianut suatu negara beserta segala unsur (pola bersikap &amp; pola bertingkah laku) yang terdapat didalamnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Sikap &amp; tingkah laku politik seseorang menjadi suatu obyek penanda gejala-gejala politik yang akan terjadi pada orang tersebut dan orang-orang yang berada di bawah politiknya. Contohnya ialah jikalau seseorang telah terbiasa dengan sikap dan tingkah laku politik yang hanya tahu menerima, menurut atau memberi perintah tanpa mempersoalkan atau memberi kesempatan buat mempertanyakan apa yang terkandung dalan perintah itu. Dapat diperkirakan orang itu akan merasa aneh, canggung atau frustasi bilamana ia berada dalam lingkungan masyarakatnya yang kritis, yang sering, kalaulah tidak selalu, mempertanyakan sesuatu keputusan atau kebijaksanaan politik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Golongan elit yang strategis seperti para pemegang kekuasaan biasanya menjadi objek pengamatan tingkah laku ini, sebab peranan mereka biasanya amat menentukan walau tindakan politik mereka tidak selalu sejurus dengan iklim politik lingkungannya. Golongan elit strategis biasanya secara sadar memakai cara-cara yang tidak demokratis guna menyearahkan masyarakatnya untuk menuju tujuan yang dianut oleh golongan ini. Kemerosotan demokratisasi biasanya terjadi disini, walaupun mungkin terjadi kemajuan pada beberapa bidang seperti bidang ekonomi dan yang lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span><span id="more-31"></span>Kebudayaan politik Indonesia pada dasarnya bersumber pada pola sikap dan tingkah laku politik yang majemuk. Namun dari sinilah masalah-masalah biasanya bersumber. Mengapa? Dikarenakan oleh karena golongan elite yang mempunyai rasa idealisme yang tinggi. Akan tetapi kadar idealisme yang tinggi itu sering tidak dilandasi oleh pengetahuan yang mantap tentang realita hidup masyarakat. Sedangkan masyarakat yang hidup di dalam realita ini terbentur oleh tembok kenyataan hidup yang berbeda dengan idealisme yang diterapkan oleh golongan elit tersebut. Contohnya, seorang kepala pemerintahan yang mencanangkan program wajib belajar 9 tahun demi meningkatkan mutu pendidikan, namun pada aplikasinya banyak anak-anak yang pada jenjang pendidikan dasar putus sekolah dengan berbagai alasan, seperti tidak memiliki biaya. Hal ini berarti idealisme itu tidak diimplikasikan secara riil dan materiil ke dalam masyarakat yang terlibat dibawah politiknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Idealisme diakui memanglah penting. Tetapi bersikap berlebihan atas idealisme itu akan menciptakan suatu ideologi yang sempit yang biasanya akan menciptakan suatu sikap dan tingkahlaku politik yang egois dan mau menang sendiri. Demokrasi biasanya mampu menjadi jalan penengah bagi atas polemik ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Indonesia sendiri mulai menganut sistem demokrasi ini sejak awal kemerdeka-annya yang dicetuskan di dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Demokrasi dianggap merupakan<span>  </span>sistem yang cocok di Indonesia karena kemajemukan masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu Demokrasi yang dilakukan dengan musyawarah mufakat berusaha untuk mencapai obyektifitas dalam berbagai bidang yang secara khusus adalah politik. Kondisi obyektif tersebut berperan untuk menciptakan iklim pemerintahan yang kondusif di Indonesia. Walaupun demikian, perilaku politik manusia di Indonesia masih memiliki corak-corak yang menjadikannya sulit untuk menerapkan Demokrasi yang murni.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Corak pertama terdapat pada golongan elite strategis, yakni kecenderungan untuk memaksakan subyektifisme mereka agar menjadi obyektifisme, sikap seperti ini biasanya melahirkan sikap mental yang otoriter/totaliter. Corak kedua terdapat pada anggota masyarakat biasa, corak ini bersifat emosional-primordial. Kedua cirak ini tersintesa sehingga menciptakan suasana politik yang otoriter/totaliter.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Sejauh ini kita sudah mengetahui adanya perbedaan atau kesenjangan antara corak-corak sikap dan tingkah laku politik yang tampak berlaku dalam masyarakat dengan corak sikap dan tingkahlaku politik yang dikehendaki oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kita tahu bahwa manusia Indonesia sekarang ini masih belum mencerminkan nilai-nilai Pancasila itu dalam sikap dan tingkah lakunya sehari-hari. Kenyataan tersebutlah yang hendak kita rubah dengan nilai-nilai idealisme pancasila, untuk mencapai manusia yang paling tidak mendekati kesempurnaan dalam konteks Pancasila.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Esensi manusia ideal tersebut harus dikaitkan pada konsep “dinamika dalam kestabilan”. Arti kata dinamik disini berarti berkembang untuk menjadi lebih baik. Misalkan kepada suatu generasi diwariskan suatu undang-undang, diharapkan dengan dinamika yang ada dalam masyarakat tersebut dapat menjadikan Undang-Undang tersebut bersifat luwes dan fleksibel, sehingga tanpa menghilangkan nilai-nilai esensi yang ada, generasi tersebut terus berkembang. Dinamika dan kemerdekaan berpikir tersebut diharapkan mampu untuk memperkokoh persatuan dan memupuk pertumbuhan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Yang menjadi persoalan kini ialah bagaimana dapat menjadikan individu-individu yang berada di masyarakat Indonesia untuk mempunyai ciri “dinamika dalam kestabilan” yakni menjadi manusia yang ideal yang diinginkan oleh Pancasila. Maka disini diperlukanlah suatu proses yang dinamakan sosialisasi, sosialisasi Pancasila. Sosalisasi ini jikalau berjalan progressif dan berhasil maka kita akan meimplikasikan nilai-nilai Pancasila kedalam berbagai bidang kehidupan. Dari penanaman-penanaman nilai ini akan melahirkan kebudayaan-kebudayaan yang berideologikan Pancasila. Proses kelahiran ini akan memakan waktu yang cukup lama, jadi kita tidak bisa mengharapkan hasil yang instant terjadinya pembudayaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span>Dua faktor yang memungkinkan keberhasilan proses pembudayaan nilai-nilai dalam diri seseorang yaitu sampai nilai-nilai itu berhasil tertanam di dalam dirinya dengan baik. Kedua faktor itu adalah:</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Emosional psikologis, faktor yang berasal dari hatinya</li>
<li class="MsoNormal">Rasio, faktor yang berasal dari otaknya</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Jikalau kedua faktor tersebut dalam diri seseorang kompatibel dengan nilai-nilai Pancasila maka pada saat itu terjadilah pembudayaan Pancasila itu dengan sendirinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Tentu saja tidak hanya kedua faktor tersebut. Segi lain pula yang patut diperhaikan dalam proses pembudayaan adalah masalah waktu. Pembudayaan tidak berlangsung secara instan dalam diri seseorang namun melalui suatu proses yang tentunya membutuhkan tahapan-tahapan yang adalah pengenalan-pemahaman-penilaian-penghayatan-pengamalan. Faktor kronologis ini berlangsung berbeda untuk setiap kelompok usia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Melepaskan kebiasaan yang telah menjadi kebudayaan yang lama merupakan suatu hal yang berat, namun hal tersebutlah yang diperlukan oleh bangsa Indonesia. <span> </span>Sekarang ini bangsa kita memerlukan suatu transformasi budaya sehingga membentuk budaya yang memberikan ciri Ideal kepada setiap Individu yakni berciri seperti manusia yang lebih Pancasilais. Transformasi iu memerlukan tahapan-tahapan pemahaman dan penghayatan yang mendalam yang terkandung di dalam nilai-nilai yang menuntut perubahan atau pembaharuan. Keberhasilan atau kegagalan pembudayaan dan beserta segala prosesnya akan menentukan jalannya perkembangan politik yang ditempuh oleh bangsa Indonesia di masa depan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mgmpips.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mgmpips.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mgmpips.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mgmpips.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mgmpips.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mgmpips.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mgmpips.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mgmpips.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mgmpips.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mgmpips.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mgmpips.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mgmpips.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mgmpips.wordpress.com&blog=806823&post=31&subd=mgmpips&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/01/kebudayaan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a63edc6f50e5be5df8e5dc1b14d8c16?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>