Strategi pembelajaran

(1). Strategi pembelajaran adalah garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran kompetensi dasar. Strategi dapat dipandang sebagai pola-pola umum kegiatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai kompetensi dasar tertentu seperti yang dijelaskan Jamarah & Zain (2002) dalam Langkah-langkah strategi;

Menetapkan spesifikasi/mengidentifikasi kualifikasi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan yang diharapkan

Memilih pendekatan belajar mengajar

Menetapkan prosedur, metode, teknik yang dianggap paling efektif/tepat sesuai dengan karakteristik siswa

Menetapkan norma dan batas minimal keberhasilan/kriteria standar kompetensi, sehingga dapat dijadikan pedoman evaluasi hasil KBM. Dengan begitu umpan balik penyempurnaan instruksional dapat dilakukan.

Jadi, strategi belajar mengajar adalah memanfaatkan segala daya dan sumber yang dimiliki untuk dikerahkan dalammencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya (induktif, deduktif, . campuran). Gambar-gambar berikut disertakan untuk memperjelas wawasan kita tentang bagaimana melaksanakan strategi tertentu disesuaikan dengan kondisi siswa.

Pendekatan pembelajaran

Secara umum, pendekatan dapat dipahami sebagai cara pandang terhadap obyek yang akan mewarnai seluruh jalannya proses pembelajaran (aktif, pasif, dialogis, PAKEM, Contextual teaching and learning/CTL, dsb). Romiszowski dalam Milan Rianto: 2000 mejelaskan tentang pendekatan pembelajaran yang diibaratkan sebagai rentangan antara dua ujung yang saling berlawanan seperti ekspositori dan diskoveri/inkuiri. Ekspositori menunjukkan pendekatan dengan dominasi peran guru selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan diskoveri/inkuiri menunjukkan dominasi siswa selama proses pembelajaran dan peran guru hanya sebagai fasilitator. Batasan pendekatan inkuiri di sini adalah kegiatan penemuan yang dilakukan siswa sendiri mulai dari merumuskan masalah, mengumpulkan data/informasi, menganalisis, menyajikan hasil dalam bentuk tulisan, gambar, table, dll, serta mengkomunikasikannya kepada pihak lain. Tetapi, Jamarah dan Zain (2002) menjabarkan tentang jenis-jenis pendekatan pembelajaran seperti: (1) individual, (2) kelompok (3) bervariasi, (4) edukatif, (5) pengalaman, (6) pembiasaan, (7) emosional, (8) rasional, (9) fungsional.

Pendekatan seperti yang disebutkan di atas tidak akan dibahas semuanya pada makalah ini, karena pembahasan hanya akan difokuskan pada PAKEM, DD/CT.

1) Pendekatan Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menekankan keaktifan yang berpusat pada siswa selama proses pembelajaran. Mereka terlibat langsung, baik dalam membangun pemahamannya sendiri maupun dalam menemukan konsep/ilmu yang dibelajarkan oleh guru melalui kegiatan yang merujuk metode tertentu.

Pembelajaran kreatif adalah pemberian kesempatan proses berfikir secara optimal, mendalam dan inovatif, serta mengolah pengetahuan menjadi pemahaman baru yang nantinya dapat bermakna bagi kehidupan siswa dimaksud.

Pembelajaran efektif adalah kesesuaian atau pembelajaran yang tepat sasaran, dimana materi yang dibelajarkan sesuai dengan kemauan, kebutuhan siswa baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Pembelajaran yang menyenangkan adalah pengkondisian suasana yang menyenangkan utamanya ketika siswa mempelajari pengetahuan di kelas, sehingga mereka betah dan tidak merasa bosan.

2) Pendekatan contextual teaching and learning

Contextual teaching and learning atau sering disingkat dengan CTL adalah pendekatan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan materi yang dibelajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan nya sendiri kemudian menghubungjkannya dengan kehidupan keseharian mereka. Proses pembelajarannya berlangsung alamiah dlm bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Komponen utama pembelajaran Contekxtual Teaching and Learning adalah:

(1) konstruktivisme, (2) bertanya, (3) menemukan/inquiry, (4) masyarakat belajar,

(5) permodelan, (6) serta penilaian authentic.

Ciri-ciri kelas yang menggunakan pendekatan CTL, salah satunya adalah

adanya pemajangan hasil kinerja siswa yang terpampang di dinding kelas. Kunci dan

Strategi membelajarkan CTL adalah: (1) relating, yaitu belajar dikaitkan dgn konteks kehi

dupan nyata, (2) experiencing, belajar ditekankan kepada penggalian, penemuan, dan

penciptaan, (3) applying, belajar bilamana dipresentasikan di dlm konteks pemanfaatannya, (4) cooperating, belajar melalui komunikasi inter/antar personal, (5) transfering, belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam

situasi konteks baru.

PENILAIAN PEMBELAJARAN TEMATIK

A. Pengertian

Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.

B. Tujuan

Tujuan Penilaian pembelajaran tematik adalah:

1. Mengetahui percapaian indikator yang telah ditetapkan

2. Memperoleh umpan balik bagi guru, untuk pengetahui hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pembelajaran

3. Memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa

4. Sebagai acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut (remedial, pengayaan, dan pemantapan).

C. Prinsip

1. Penilaian di kelas I dan II mengikuti aturan penilaian mata-mata pelajaran lain di sekolah dasar. Mengingat bahwa siswa kelas I SD belum semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.

2. Kemampuan membaca, menulis dan berhitung merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas I dan II. Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.

3. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing-masing Kompetensi Dasar dan Hasil Belajar dari mata-mata pelajaran.

4. Penilaian dilakukan secara terus menerus dan selama proses belajar mengajar berlangsung, misalnya sewaktu siswa bercerita pada kegiatan awal, membaca pada kegiatan inti dan menyanyi pada kegiatan akhir.

5. Hasil karya/kerja siswa dapat digunakan sebagai bahan masukan guru dalam mengambil keputusan siswa misalnya: Penggunaan tanda baca, ejaan kata, maupun angka.

D. Alat Penilaian

Alat penilaian dapat berupa Tes dan Non Tes. Tes mencakup: tertulis, lisan, atau perbuatan, catatan harian perkembangan siswa, dan porto folio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuiah buku bantu. Sedangkan Tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, khususnya untuk mengetahui tentang penggunaan tanda baca, Jean, kata atau angka

Berikut adalah contoh penilaian yang dapat dilakukan guru:

A. Kewarganegaraan dan

Pengetahuan Sosial

: Tes Lisan

· Menyebutkan peristiwa/kegiatan yang dialami

· Mengemukakan peristiwa/kegiatan yang berkesan

· Mengekspresikan perasaan waktu memberi kesan.

B.

Bahasa Indonesia

: Perbuatan

· Kelancaran membaca

· Melafalkan kata

· Melagukan/intonasi

· Cara bertanya jawab

Tugas

· Melengkapi kalimat

C.

Ilmu Pengetahuan Alam

: Perbuatan

· Mendemonstrasikan cara menggosok gigi

: Lisan

· Menyebutkan cara memelihara gigi

· Menjelaskan manfaat menggosok gigi

E. Aspek Penilaian

Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan untuk mengkaji ketercapaian Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata pelajaran yang terdapat pada tema tersebut. Dengan demikian penilaian dalam hal ini tidak lagi terpadu melalui tema, melainkan sudah terpisah-pisah sesuai dengan Kompetensi Dasar, Hasil Belajar dan Indikator mata pelajaran.

Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan pada kompetensi mata pelajaran yang terdapat pada kelas satu dan dua Sekolah Dasar, yaitu: Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan.

PENUTUP

Pedoman ini merupakan acuan minimal, sehingga sekolah dan guru dapat mengembangan sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing.

TAHAP PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK

1.   Tahapan kegiatan

Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit)

a.   Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan

Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi

b.   Kegiatan Inti

Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai  strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.

c.   Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut

Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.

Contoh jadwal pelaksanaan pembelajaran perhari dapat dijabarkan menjadi:

Contoh 1:

Kegiatan

Jenis kegiatan

Kegiatan pembukaan

Anak berkumpul bernyanyi sambil menari mengikluti irama musik

 

Kegiatan inti

·         Kegiatan untuk pengembangan membaca

·         Kegiatan untuk pengembangan menulis

·         Kegitan untuk pengembangan berhitung

·          

Kegiatan penutup

Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita

 


Contoh 2:

Kegiatan

Jenis kegiatan

Kegiatan pembukaan

Waktu berkumpul (anak m,enceritakan pengalkaman, menyanyi, melakukan kegiatan fisik sesuai dengan tema)

 

Kegiatan inti

·         Pengembnagan kemmapuan menulis (kegiatan kelompok besar)

·         Pengembnagan kemampuan berhitung kegiatan kelompok kecil atau berpasangan)

·         Melakukan pengamatan sesuai dengan tema, misalnya mengamati jenis kendaraan yang lewat pada tema transporasi, menggambar hewan hasil pengamatan

 

Kegoiatan penutup

  • Mendongeng
  • Pesan-pesan moral
  • Musik/menyanyi

 

 

2.       Pengaturan Jadwal pelajaran

Untuk memudahkan administrasi sekolah terutama dalam penjadwalan. Guru bersama dengan guru mata pelajaran  pendidikan agama, guru pendidikan Jasmani dan guru muatan lokal perlu bersama-sama menyusun Jadwal pelajaran.  Contoh jadwal yang dapat dikembangkan adalah:

Waktu

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

7-7.35

Mat

B. Indo

Mat

BI

Penjaskes

IPA

7.35-8.10

Mat

B. Indo

Mat

BI

penjaskes

IPA

8.10-8.45

Mat

B. Indo

Mat

KTK

P. Agama

mulok

8.45-9.00

 

Istirahat

 

9.00-9.35

B. Ind

Mat

 

IPS

KTK

P. Agama

mulok

9.35-10.10

B. Ind

Mat

 

IPS

KTK

 

 

 

TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

A.   Pemetaan Kompetensi Dasar

Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:

1.   Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator

Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal  sebagai berikut:

·         Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik

·         Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran

·         Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau dapat diamat

2.      Menentukan tema

a.                 cara penentuan tema

Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni:

Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.

Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

b.                 Prinsip Penentuan tema

Dalam  menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:

·        Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa:

·        Dari yang termudah menuju yang sulit

·        Dari yang sederhana menuju yang kompleks

·        Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.

·        Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa

·        Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya

3.    Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator

Lakukan  identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis.

B.  Menetapkan Jaringan Tema

Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat  kaitan antara tema,  kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema. 

C.  Penyusunan Silabus

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan penilaian.

D.  Penyusunan Rencana Pembelajaran

Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:

1.      Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).

2.     Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan.

3.      Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.

4.      Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup).

5.      Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.

6.      Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil penilaian).

 

 

IMPLIKASI PEMBELAJARAN TEMATIK

Dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi yang mencakup:

 A.   Implikasi bagi guru

 Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.

B.  Implikasi bagi siswa

  1. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal.
  2. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah

Baca lebih lanjut

Karakteristik Pembelajaran Tematik

Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

1.      Berpusat pada siswa

Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.

2.      Memberikan pengalaman langsung

Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.

3.      Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas

Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

4.      Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran

Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

5.      Bersifat fleksibel

Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.

6.      Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa

Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

7.      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

 

 RAMBU-RAMBU

1.      Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan

2.      Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester

3.      Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri.

4.      Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.

5.      Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral

6.      Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan daerah setempat

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.